

Banjir bandang di wilayah Walmas Kabupaten Luwu 3 Oktober 2021 lalu menyebabkan kerusakan yang cukup parah, mengakibatkan 4 orang meninggal dunia, 771 kepala keluarga atau 3.084 jiwa terdampak kerugian materiil. Foto: WALHI Sulsel
Terkait kapasitas rendahnya kapasitas infiltrasi dinilai berpengaruh terhadap daya serap airnya. Menurutnya, terdapat tiga jenis tanah, jenis tanah di Lamasi yaitu jenis latosol, tanah podsolik dan jenis tanah mediteran. Jenis tanah yang dominan adalah jenis latosol yang daya serap airnya sangat rendah dan bisa menimbulkan aliran tidak terserap ke tanah.
Terkait kelas tanah, diperoleh data yang menunjukkan kelas tanah di Luwu didominasi oleh lahan kelas VI atau jenis tanah yang rawan longsor.
“Hal ini perlu mendapat perhatian pemerintah bahwa DAS Lamasi ini memang sudah kritis dan diintai oleh bencana,” jelasnya.
DAS Lamasi sendiri berada di tiga wilayah administrasi, yakni Kabupaten Toraja Utara, Luwu, dan Luwu Utara, meskipun sebagian besar DAS ini berada di Kecamatan Lamasi, Luwu. Sungai Lamasi sendiri merupakan sungai terpanjang kedua setelah sungai Pareman dengan luas area 48.372 ha (487.32 km2) dan memiliki panjang 69 Km.
“DAS Lamasi juga memiliki keterkaitan erat dengan DAS Rongkong yang merupakan sering terjadi luapan banjir di wilayah hilir sungai Lamasi dan sungai Rongkong.”
Slamet juga menyinggung deforestasi di wilayah tersebut. Dari data yang ada dengan periodik 10 tahun, terlihat adanya tren deforestasi dengan tingkat deforestasi mencapai 1.733,55 ha atau sekitar 7,6% dari luasan DAS.
“Kalau kita lihat di peta yang ada memang ada wilayah-wilayah dengan kemiringan dan kontur berbukit. Tanah-tanah di hulu DAS Lamasi itu sangat rentan terpengaruh jika ada aktivitas yang di luar aktivitas alamiah.”
